Pai.umsida.ac.id — Pergantian tahun kerap dipersepsikan sebagai peristiwa seremonial yang identik dengan euforia, perayaan, dan hiburan massal.
Dalam praktik sosial modern, tahun baru sering kali dimaknai secara dangkal, sekadar pergantian angka kalender tanpa refleksi yang mendalam. Padahal, dalam perspektif Pendidikan Islam, khususnya pandangan Islam Muhammadiyah, tahun baru merupakan momentum strategis untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) dan menyusun perencanaan hidup yang berorientasi pada perbaikan kualitas iman, ilmu, dan amal.
Islam memandang waktu sebagai amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, pergantian tahun seharusnya tidak dilewati tanpa kesadaran nilai dan orientasi hidup yang jelas. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membingkai pemaknaan tahun baru agar tidak terjebak pada budaya euforia, tetapi menjadi titik awal transformasi pribadi dan sosial.
Konsep Waktu dalam Islam sebagai Landasan Pendidikan
Al-Qur’an menegaskan pentingnya waktu sebagai bagian dari kehidupan manusia. Surah Al-‘Ashr secara tegas menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai moral dan spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab manusia.
Dalam pandangan Islam Muhammadiyah, kesadaran waktu merupakan fondasi utama pendidikan Islam. Waktu tidak boleh dipahami sekadar sebagai rangkaian hari yang berlalu, melainkan sebagai ruang aktualisasi iman dan amal. Oleh karena itu, tahun baru harus dimaknai sebagai pengingat bahwa usia terus berkurang, sementara tanggung jawab keilmuan, moral, dan sosial justru semakin besar.
Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah yang Rasional
Muhasabah dalam Islam Muhammadiyah tidak dimaknai secara emosional atau simbolik semata. Evaluasi diri harus dilakukan secara rasional, jujur, dan objektif terhadap seluruh aspek kehidupan. Tahun baru menjadi momen tepat untuk meninjau kembali perjalanan satu tahun sebelumnya, baik dalam aspek spiritual, akademik, maupun sosial.
Pertanyaan-pertanyaan kritis perlu diajukan, seperti: sejauh mana ilmu yang dipelajari telah membentuk akhlak dan kepribadian? Apakah aktivitas akademik dan sosial telah mencerminkan nilai kejujuran, amanah, dan tanggung jawab? Apakah keberagamaan yang dijalani bersifat substantif atau hanya berhenti pada rutinitas formal?
Muhammadiyah menegaskan bahwa muhasabah yang tidak melahirkan perubahan nyata hanya akan menjadi refleksi simbolik tanpa dampak. Pendidikan Islam harus mendorong evaluasi diri yang berujung pada perbaikan sikap dan tindakan.
Kritik terhadap Budaya Euforia Tahun Baru
Fenomena perayaan tahun baru yang diwarnai pesta, hura-hura, dan pemborosan menjadi perhatian serius dalam perspektif Islam Muhammadiyah. Budaya euforia tersebut dinilai berpotensi mengaburkan makna waktu sebagai amanah dan menggeser orientasi hidup dari produktivitas menuju konsumsi.
Muhammadiyah tidak menolak kegembiraan sebagai bagian dari ekspresi manusiawi. Namun, kegembiraan yang kehilangan arah nilai dan tanggung jawab sosial justru berpotensi merusak kesadaran moral. Pendidikan Islam dituntut hadir sebagai kekuatan kritis yang mampu membedakan antara ekspresi budaya yang konstruktif dan destruktif, serta menawarkan alternatif pemaknaan tahun baru yang lebih bermakna.
Perencanaan Diri dalam Perspektif Islam Berkemajuan
Salah satu karakter utama Islam Muhammadiyah adalah penekanan pada perencanaan hidup yang sistematis dan berorientasi masa depan. Tahun baru dipandang sebagai momentum strategis untuk menyusun perencanaan diri (life planning) yang realistis, terukur, dan bernilai ibadah.
Perencanaan diri dalam perspektif Pendidikan Islam mencakup beberapa aspek penting, antara lain perencanaan spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak, perencanaan intelektual untuk mengembangkan literasi dan keilmuan, serta perencanaan sosial sebagai wujud kontribusi nyata bagi masyarakat.
Muhammadiyah menegaskan bahwa iman tanpa perencanaan berisiko melahirkan sikap pasif, sedangkan perencanaan tanpa iman dapat kehilangan arah moral. Pendidikan Islam bertugas mensinergikan keduanya secara seimbang.
Peran Pendidikan Agama Islam dan Prodi PAI
Sebagai institusi akademik, Program Studi Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dalam membingkai pemaknaan tahun baru secara edukatif dan kritis. Prodi PAI tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer ilmu keagamaan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan kesadaran intelektual dan etis mahasiswa.
Melalui pembelajaran, kajian, dan diskursus keislaman yang rasional, PAI diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara tekstual, tetapi juga mampu mengontekstualisasikannya dalam kehidupan nyata. Tahun baru dapat dijadikan pintu masuk untuk menanamkan kesadaran tanggung jawab akademik, sosial, dan keumatan.
Tantangan Generasi Muda dan Budaya Resolusi Instan
Di era digital, resolusi tahun baru sering kali berhenti pada slogan atau unggahan media sosial tanpa implementasi nyata. Generasi muda hidup dalam arus informasi yang cepat dan penuh distraksi, sehingga membutuhkan bimbingan pendidikan Islam yang adaptif namun tetap kritis.
Muhammadiyah memandang bahwa generasi muda harus dibekali etos ilmu, disiplin waktu, dan kemampuan berpikir kritis terhadap budaya populer. Pendidikan Agama Islam dituntut tidak hanya normatif, tetapi mampu menjawab realitas sosial generasi muda secara relevan dan solutif.
Dalam perspektif Pendidikan Islam dan pandangan Islam Muhammadiyah, tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum muhasabah dan perencanaan diri yang strategis. Melalui kesadaran waktu, evaluasi diri yang rasional, dan perencanaan hidup yang terarah, tahun baru dapat menjadi titik awal pembaruan diri menuju kehidupan yang lebih bertanggung jawab dan bermakna.
Program Studi Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menjadi garda depan dalam membangun pemaknaan tahun baru yang berorientasi pada nilai, ilmu, dan kemaslahatan. Dengan berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad SAW, dan manhaj tarjih, umat Islam diajak menjadikan tahun baru sebagai sarana pembinaan diri menuju Islam yang berkemajuan.
Selain dimaknai sebagai momentum refleksi personal, tahun baru dalam perspektif Pendidikan Islam juga harus dipahami sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial. Islam Muhammadiyah menegaskan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada ranah individual, tetapi harus berdampak pada kehidupan sosial dan kemaslahatan umat. Oleh karena itu, muhasabah dan perencanaan diri di awal tahun idealnya juga mencakup evaluasi peran sosial seorang Muslim dalam lingkungan akademik maupun masyarakat luas.
Dalam konteks ini, Pendidikan Agama Islam memiliki tanggung jawab strategis untuk menanamkan kesadaran bahwa ilmu dan iman harus berorientasi pada kebermanfaatan. Mahasiswa tidak hanya dituntut meningkatkan kualitas ibadah personal, tetapi juga kepekaan sosial, kepedulian terhadap persoalan umat, serta keberanian untuk terlibat dalam upaya perbaikan masyarakat secara konstruktif.
Tahun baru dapat dijadikan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen keislaman yang berwawasan sosial, seperti memperkuat budaya literasi, meningkatkan partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan, serta menumbuhkan etos kerja dan kejujuran dalam kehidupan akademik. Sikap inilah yang sejalan dengan misi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid, yaitu menghadirkan Islam yang tidak hanya benar secara teologis, tetapi juga relevan dan solutif bagi persoalan zaman.
Dengan demikian, perencanaan diri di awal tahun tidak semata-mata bersifat individual, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar kolektif untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.















