pai.umsida.ac.id — Fitri Andriani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil meraih juara dua dalam ajang Surabaya City of Heroes Championship 2026.
Kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah tersebut berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di GOR Jala Krida Wacana, Perak, Surabaya. Fitri tampil mewakili cabang Umsida dalam kompetisi tingkat nasional tersebut.
Mahasiswi kelahiran Sidoarjo, 16 Desember 2005 itu saat ini menempuh pendidikan pada semester empat Prodi PAI Umsida. Selain aktif mengikuti kegiatan akademik, Fitri juga terlibat dalam organisasi Himpunan Mahasiswa (Hima) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Baginya, kesempatan bertanding di tingkat nasional memberikan pengalaman tersendiri karena ia harus berhadapan dengan peserta yang datang dari berbagai daerah dengan kemampuan dan pengalaman bertanding yang berbeda.
“Kemarin aku ikut lomba TS mewakili cabang Umsida di tingkat nasional. Ini salah satu kompetisi yang cukup besar buat aku karena pesertanya dari berbagai daerah,” ungkap Fitri.
Persiapkan Diri Lebih dari Sebulan untuk Juara
Keberhasilan meraih posisi kedua tidak diperoleh Fitri secara instan. Ia telah melakukan persiapan intensif selama lebih dari satu bulan sebelum kompetisi berlangsung.
Latihan difokuskan pada pematangan teknik yang masih perlu diperbaiki sekaligus menjaga kondisi fisik agar tetap prima hingga hari pertandingan. Konsistensi menjadi salah satu bagian penting dalam persiapannya menghadapi kompetisi nasional.
“Persiapannya aku lakuin lebih dari satu bulan sebelum hari lomba. Selama itu aku coba latihan rutin dan benerin teknik-teknik yang masih kurang, biar pas hari-H udah lebih siap,” jelasnya.
Fitri menambahkan, latihan yang semakin intens mulai dilakukan sekitar satu bulan lebih menjelang pertandingan. Selain memperkuat teknik, ia berusaha menjaga kebugaran agar performanya tidak menurun saat memasuki arena pertandingan.
Namun, tantangan yang dihadapi bukan hanya persoalan teknik. Fitri juga harus membagi waktunya antara latihan, kuliah, aktivitas organisasi, dan kegiatan mengajar les.
“Tantangan paling terasa itu soal bagi waktu. Selain latihan buat lomba, aku juga masih ngelesi, jadi harus pinter-pinter atur jadwal biar dua-duanya tetap jalan tanpa saling ganggu,” katanya.
Manajemen waktu menjadi penting karena persiapan menghadapi sebuah pertandingan membutuhkan konsistensi. Ia harus memastikan jadwal latihan tetap berjalan tanpa mengabaikan tanggung jawab lain.
Hasil Pertandingan Jadi Bekal Evaluasi
Saat pertandingan berlangsung, Fitri mengaku jalannya laga pada awalnya masih sesuai dengan perkiraannya. Namun, memasuki bagian akhir pertandingan, terdapat sejumlah kondisi yang membuat hasil akhirnya berbeda dari rencana awal.
“Di awal pertandingan, jalannya sempat sesuai sama perkiraan aku, tapi pas udah mendekati akhir ternyata hasilnya di luar dugaan. Ada beberapa hal yang nggak sesuai rencana, tapi tetap jadi pengalaman yang berharga buat aku,” ujarnya.
Meskipun belum berhasil menempati posisi pertama, capaian sebagai juara dua menjadi hasil dari proses latihan panjang sekaligus bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan pada kompetisi berikutnya.
Fitri juga mengaku mendapat dukungan besar selama menjalani persiapan. Dukungan tersebut datang dari keluarga, teman-teman, hingga lingkungan Umsida.
“Alhamdulillah dukungannya besar banget, baik dari keluarga, teman-teman, sampai pihak Umsida sendiri. Mereka selalu mendoakan dan mendukung yang terbaik buat aku. Itu jadi salah satu semangat aku juga selama persiapan,” tuturnya.
Untuk saat ini, Fitri belum menentukan turnamen berikutnya yang akan diikuti. Ia memilih tetap mempersiapkan kemampuan sembari menunggu informasi mengenai kompetisi selanjutnya.
Dari pengalaman tersebut, Fitri berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak mudah menyerah dalam mengejar prestasi.
“Semoga teman-teman bisa lebih giat lagi dalam latihan, karena setiap lomba itu butuh waktu dan persiapan yang panjang serta matang. Jangan gampang menyerah walaupun hasilnya kadang nggak selalu sesuai harapan,” pungkasnya.
Prestasi Fitri menjadi bukti bahwa proses panjang, disiplin, dan konsistensi mampu membawa mahasiswa bersaing di tingkat nasional. Capaian tersebut juga diharapkan dapat memotivasi mahasiswa Umsida lainnya untuk terus mengembangkan potensi, berani mengikuti kompetisi, serta menjaga semangat belajar dan berlatih meski harus membagi waktu dengan berbagai aktivitas akademik dan organisasi kampus.
Penulis: Nabila Wulyandini














