pai.umsida.ac.id — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Muhammad Dzulfahmi Al Abror, berhasil meraih juara dua kategori tanding kelas C dewasa dalam Surabaya City of Heroes Championship 2026.
Kejuaraan pencak silat tersebut diselenggarakan selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 24–26 Juli 2026, di GOR Jala Krida Wacana, Perak, Surabaya.
Kompetisi ini berlangsung meriah dengan jumlah peserta mencapai sekitar 1.000 orang dari berbagai daerah dan perguruan pencak silat.
Dzulfahmi merupakan mahasiswa PAI semester empat yang aktif mengikuti kegiatan organisasi, di antaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa, dan Tapak Suci.
Di tengah kegiatan akademik dan organisasi, ia tetap mampu menjaga konsistensi latihan hingga memperoleh prestasi pada tingkat kejuaraan.
Persiapan Dua Bulan Hadapi Persaingan Ketat

Dzulfahmi mengungkapkan bahwa Surabaya City of Heroes Championship 2026 menjadi salah satu kompetisi yang memberikan pengalaman berharga baginya.
Banyaknya peserta membuat persaingan berlangsung ketat karena setiap atlet datang dengan kemampuan dan persiapan masing-masing.
“Kompetisinya sangat luar biasa dan pesertanya juga sangat banyak, kurang lebih mencapai 1.000 orang. Hal tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk menunjukkan kemampuan terbaik,” ujar Dzulfahmi.
Untuk menghadapi perlombaan tersebut, ia menjalani persiapan selama kurang lebih dua bulan.
Latihan dilakukan secara teratur dengan berfokus pada peningkatan kemampuan fisik, teknik serangan dan pertahanan, kardio, serta simulasi pertandingan atau latihan pancingan.
Ia juga menambah latihan secara mandiri di rumah. Salah satu aktivitas yang rutin dilakukan adalah lari pagi untuk meningkatkan daya tahan dan menjaga kondisi tubuh sebelum menghadapi pertandingan.
“Persiapan saya kurang lebih dua bulan. Latihannya meliputi latihan fisik, teknik, kardio, dan pancingan pertandingan. Selain latihan bersama, saya juga berlatih di rumah, seperti melakukan lari pagi,” jelasnya.
Menurut Dzulfahmi, persiapan fisik dan teknik harus dilakukan secara seimbang.
Penguasaan teknik saja dinilai belum cukup apabila tidak didukung stamina yang baik, terutama ketika harus menjalani beberapa pertandingan hingga babak final.
Berjuang dari Babak Awal hingga Final

Selama pertandingan, Dzulfahmi mampu melewati babak demi babak dengan cukup lancar.
Ia berusaha menerapkan teknik yang telah dipelajari selama latihan sekaligus menjaga fokus ketika menghadapi karakter lawan yang berbeda-beda.
“Perjalanan pertandingan saya berjalan lancar, termasuk ketika memasuki babak semifinal. Saya berusaha tetap fokus dan mengikuti strategi yang sudah dipersiapkan,” tuturnya.
Setelah berhasil melewati semifinal, Dzulfahmi melanjutkan perjuangan pada babak final kategori tanding kelas C dewasa.
Namun, pertandingan terakhir tidak berjalan sepenuhnya sesuai dengan perkiraan dan strategi awalnya.
“Pada babak final, hasil pertandingan tidak sesuai dengan prediksi saya. Meskipun belum berhasil memperoleh juara pertama, saya tetap bersyukur karena dapat meraih juara dua,” katanya.
Hasil tersebut tidak membuatnya berhenti melakukan evaluasi.
Ia menjadikan pertandingan final sebagai bahan pembelajaran untuk memperbaiki strategi, meningkatkan kecepatan membaca gerakan lawan, serta menjaga konsentrasi dalam situasi pertandingan yang semakin menekan.
Selain lawan di arena, Dzulfahmi mengakui bahwa tantangan terbesar selama proses persiapan berasal dari dirinya sendiri, yaitu rasa malas untuk berlatih.
Kondisi lelah setelah mengikuti perkuliahan dan kegiatan organisasi terkadang memengaruhi semangatnya.
“Tantangan terbesar saya adalah melawan rasa malas untuk latihan. Karena itu, saya berusaha mengingat kembali tujuan yang ingin dicapai agar tetap konsisten berlatih,” ungkapnya.
Dukungan Orang Terdekat Menguatkan Semangat
Prestasi Dzulfahmi tidak terlepas dari dukungan keluarga, kampus, dan teman-temannya.
Menurutnya, dukungan tersebut memberikan energi tambahan selama menjalani latihan maupun ketika mengikuti pertandingan di GOR Jala Krida Wacana.
“Orang tua sangat mendukung saya dalam mengikuti perlombaan ini. Kampus tercinta Umsida dan teman-teman program studi juga memberikan semangat kepada saya,” ujarnya.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan potensi akademik dan nonakademik secara bersamaan.
Keaktifannya dalam IMM, Himpunan Mahasiswa, dan Tapak Suci turut membentuk kedisiplinan, keberanian, serta kemampuan mengelola tanggung jawab.
Dzulfahmi berharap pencapaiannya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan kemampuan sesuai bidang masing-masing.
Menurutnya, prestasi tidak diperoleh secara instan, tetapi membutuhkan proses, latihan, dan konsistensi.
“Pesan saya, rutinlah berlatih dan jangan malas. Teruslah memperbaiki kemampuan karena hasil yang baik akan mengikuti proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh,” pungkas Dzulfahmi.
Penulis: Nabila Wulyandini















