Pai.umsida.ac.id- Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu momentum paling penting dalam sejarah Islam yang tidak hanya memiliki dimensi teologis, tetapi juga membawa pesan transformasi spiritual dan sosial bagi umat Islam sepanjang zaman.
Baca Juga: Pentingnya Menata Hati Menuju Ramadhan & Mempersiapkan Jiwa Menyambut Bulan Penuh Berkah
Isra Mikraj menjadi titik perjumpaan antara pengalaman spiritual Nabi Muhammad SAW dengan mandat sosial yang harus dijalankan umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks kekinian, peristiwa ini relevan untuk dibaca ulang sebagai sumber nilai dalam menghadapi krisis moral, disrupsi sosial, dan tantangan kehidupan modern.
Isra Mikraj sebagai Peristiwa Spiritual Transformatif
Isra Mikraj adalah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu dilanjutkan dengan perjalanan menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mikraj). Peristiwa ini terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah, yang dikenal sebagai ‘amul huzn (tahun kesedihan), ketika beliau kehilangan dua sosok penopang dakwah, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib.
Secara spiritual, Isra Mikraj menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah SWT tidak terlepas dari ujian dan penderitaan. Dalam berbagai pemberitaan keislaman, seperti yang dimuat Republika, Isra Mikraj sering dimaknai sebagai penguatan iman di tengah tekanan sosial dan psikologis. Peristiwa ini mengajarkan bahwa spiritualitas Islam bukanlah pelarian dari realitas, melainkan sumber kekuatan untuk menghadapinya.
Perintah shalat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mikraj menjadi bukti bahwa ibadah merupakan fondasi utama pembentukan kepribadian muslim. Shalat bukan hanya ritual individual, tetapi sarana pembinaan disiplin, kesadaran moral, dan kontrol diri dalam kehidupan sehari-hari.
Dimensi Sosial dalam Perintah Shalat
Meskipun shalat sering dipahami sebagai ibadah personal, substansi ajarannya memiliki implikasi sosial yang sangat kuat. Dalam banyak kajian dan artikel keislaman, termasuk yang dimuat oleh Kompas.com, shalat dipahami sebagai mekanisme pembentukan etika sosial, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Peristiwa Isra Mikraj menegaskan bahwa spiritualitas yang sejati harus berbuah pada perubahan sosial. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dengan kata lain, shalat idealnya melahirkan pribadi muslim yang berkontribusi positif dalam kehidupan sosial, bukan hanya taat secara ritual.
Dalam konteks masyarakat modern yang dihadapkan pada individualisme dan krisis empati, pesan sosial Isra Mikraj menjadi semakin relevan. Ibadah tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus tercermin dalam sikap adil, peduli, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
Relevansi Isra Mikraj di Era Digital
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam pola kehidupan sosial umat Islam. Media sosial, arus informasi yang cepat, serta budaya instan sering kali memengaruhi cara individu memaknai agama. Dalam beberapa pemberitaan dan opini keislaman yang dimuat oleh CNN Indonesia dan Tempo, disoroti bahwa tantangan utama umat Islam hari ini bukan hanya pada aspek akidah, tetapi juga pada konsistensi moral dan etika di ruang digital.
Isra Mikraj dapat menjadi refleksi penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Spirit perjalanan Nabi Muhammad SAW mengajarkan keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah dan tanggung jawab horizontal kepada manusia. Nilai ini penting untuk membangun etika bermedia yang bijak, beradab, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Generasi muda, sebagai kelompok yang paling aktif di ruang digital, perlu menjadikan Isra Mikraj sebagai sumber inspirasi untuk membangun identitas keislaman yang moderat, kritis, dan berakhlak. Pendidikan agama Islam yang kontekstual memiliki peran strategis dalam menerjemahkan nilai-nilai Isra Mikraj ke dalam praktik kehidupan digital sehari-hari.
Isra Mikraj dan Pendidikan Karakter Umat
Dalam dunia pendidikan Islam, Isra Mikraj sering dijadikan momentum untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Sejumlah berita pendidikan Islam menekankan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah historis, melainkan materi pendidikan karakter yang kaya akan nilai keteladanan, keteguhan iman, dan tanggung jawab sosial.
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam mengontekstualisasikan makna Isra Mikraj agar tidak berhenti pada peringatan seremonial tahunan. Melalui pendekatan reflektif dan dialogis, nilai-nilai Isra Mikraj dapat diinternalisasikan sebagai landasan pembentukan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Transformasi spiritual yang lahir dari Isra Mikraj seharusnya berdampak pada transformasi sosial, termasuk dalam membangun budaya toleransi, keadilan, dan kepedulian terhadap persoalan umat dan bangsa.
Membangun Kesalehan Individual dan Sosial
Peristiwa Isra Mikraj menegaskan bahwa Islam tidak memisahkan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Keduanya saling berkaitan dan harus berjalan seimbang. Kesalehan individual tanpa kepedulian sosial berpotensi melahirkan sikap eksklusif, sementara aktivisme sosial tanpa landasan spiritual rentan kehilangan arah moral.
Dalam konteks keindonesiaan, pesan Isra Mikraj sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat yang plural. Sejumlah tokoh agama, sebagaimana dikutip dalam berbagai media nasional, menegaskan bahwa Isra Mikraj mengajarkan umat Islam untuk menjadi pribadi yang religius sekaligus humanis.
Momentum peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas ibadah sekaligus meningkatkan kontribusi sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Transformasi spiritual dan sosial yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj merupakan pesan universal yang relevan lintas zaman. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah SWT harus melahirkan perubahan sikap, perilaku, dan tanggung jawab sosial. Dalam menghadapi tantangan modern, umat Islam dituntut untuk menjadikan Isra Mikraj sebagai sumber inspirasi dalam membangun kehidupan yang beriman, beretika, dan berkeadaban.
Dengan demikian, Isra Mikraj bukan hanya peristiwa sejarah yang dikenang, tetapi nilai hidup yang terus dihidupkan dalam praktik keseharian umat Islam, baik di ruang spiritual, sosial, maupun digital.
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam mengontekstualisasikan makna Isra Mikraj agar tidak berhenti pada peringatan seremonial tahunan semata. Melalui pendekatan reflektif, dialogis, dan kontekstual, nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj dapat diinternalisasikan secara lebih mendalam sebagai fondasi pembentukan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak. PAI tidak hanya berfungsi sebagai transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai medium transformasi nilai yang relevan dengan realitas sosial dan tantangan zaman.
Transformasi spiritual yang lahir dari peristiwa Isra Mikraj seharusnya berdampak langsung pada transformasi sosial. Spirit kedekatan kepada Allah SWT perlu diwujudkan dalam sikap toleransi, keadilan, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap persoalan umat dan bangsa. Nilai-nilai ini menjadi sangat penting dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk dan dinamis.
Baca Juga: Dekan FAI Umsida Mengunjungi UniSZA, Berikan Kuliah Terbuka kepada Mahasiswa Malaysia
Peristiwa Isra Mikraj juga menegaskan bahwa Islam tidak memisahkan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Keduanya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Kesalehan individual tanpa kepedulian sosial berpotensi melahirkan sikap eksklusif, sementara aktivisme sosial tanpa landasan spiritual berisiko kehilangan arah moral. Oleh karena itu, momentum peringatan Isra Mikraj seharusnya dimaknai sebagai ruang refleksi kolektif untuk memperbaiki kualitas ibadah sekaligus memperkuat kontribusi sosial umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penulis: Admin
Sumber Refrensi:
















