Pai.umsida.ac.id – Perkembangan teknologi dan arus globalisasi menuntut guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk tidak lagi mengandalkan pembelajaran yang monoton. Di tengah perubahan karakter generasi saat ini, guru PAI dituntut lebih kreatif agar materi keislaman tetap relevan, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Baca Juga: Riset Dosen PAI Umsida Ungkap Peran Guru PAI Bentuk Penyesuaian Diri Santri
Hal itu tergambar dalam artikel ilmiah karya Emi Kurniati dan Ainun Nadlif dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berjudul Teachers’ Strategies in Implementing Active Innovative Creative Efficient and Fun Learning in Islamic Religious Education Subjects in the Era of Globalization yang terbit di Al-Ulum Jurnal Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 tahun 2025. Penelitian tersebut menyoroti strategi guru dalam menerapkan model PAIKEM pada pembelajaran PAI, tantangan yang dihadapi, serta upaya untuk mengatasinya.
PAIKEM Jadi Jawaban Pembelajaran PAI yang Tidak Membosankan
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa pembelajaran PAI memiliki peran penting dalam membentuk kecerdasan spiritual, moral, dan keterampilan sosial siswa. Namun, di era globalisasi, tantangan pembelajaran semakin kompleks karena siswa hidup di tengah derasnya teknologi digital, hiburan instan, dan perubahan gaya belajar. Kondisi ini membuat guru PAI harus mampu menyesuaikan strategi pembelajaran agar tidak tertinggal oleh zaman.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitiannya adalah dua guru PAI kelas VII dan siswa kelas VII di SMPN 1 Candi. Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa strategi guru dalam menerapkan PAIKEM berfokus pada penciptaan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Guru tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga berusaha menyesuaikan metode dengan kebutuhan dan minat siswa. Bentuknya antara lain diskusi kelompok, permainan edukatif, kuis interaktif, demonstrasi, simulasi, role play, hingga penggunaan video pembelajaran. Pendekatan semacam ini dinilai lebih mampu menghidupkan kelas dan membuat siswa lebih antusias mengikuti pelajaran PAI.
Penelitian itu juga menegaskan bahwa guru perlu menyiapkan rencana pembelajaran yang jelas, materi yang relevan, serta media yang sesuai agar pembelajaran tidak terasa membosankan. Bahasa yang sederhana, contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, dan aktivitas kolaboratif menjadi kunci agar siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga benar-benar terlibat dalam proses belajar.
Tantangan Guru PAI di Tengah Perbedaan Siswa dan Keterbatasan Media
Meski model PAIKEM dinilai efektif, penerapannya tidak lepas dari berbagai hambatan. Salah satu tantangan utama yang ditemukan dalam penelitian adalah perbedaan kemampuan siswa. Setiap siswa memiliki tingkat pemahaman, latar belakang, dan gaya belajar yang berbeda, sehingga guru harus lebih adaptif dalam mengelola kelas.
Selain itu, minat sebagian siswa terhadap mata pelajaran PAI masih tergolong rendah. Di tengah dominasi teknologi dan hiburan digital, materi agama sering kali kalah menarik dibandingkan konten yang mereka konsumsi setiap hari. Akibatnya, keterlibatan siswa dalam pembelajaran bisa menurun jika guru tidak menghadirkan metode yang lebih kreatif dan interaktif.
Kendala lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan media dan fasilitas sekolah. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua sekolah memiliki perangkat pembelajaran yang memadai atau dapat digunakan secara optimal. Dalam kondisi seperti itu, guru dituntut tetap inovatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada agar proses belajar tetap berjalan efektif.
Di sisi lain, keterbatasan waktu juga menjadi persoalan tersendiri. Guru harus menuntaskan materi dalam alokasi jam pelajaran yang terbatas, sambil tetap berupaya menjaga kualitas interaksi dan pemahaman siswa. Karena itu, guru perlu pandai memilih inti materi dan menyajikannya secara ringkas, menarik, dan mudah diterima oleh peserta didik.
Kolaborasi dan Inovasi Jadi Kunci Penguatan Pembelajaran PAI
Penelitian ini menekankan bahwa tantangan pembelajaran PAI di era globalisasi tidak cukup diatasi dengan kerja individu guru semata. Dibutuhkan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan sekolah agar pembelajaran PAI benar-benar mampu menjawab kebutuhan zaman. Salah satu upaya yang disorot adalah pentingnya komunikasi dengan orang tua, terutama ketika pembelajaran memerlukan dukungan perangkat seperti ponsel dan kuota internet.
Selain itu, kerja sama antarguru PAI juga dinilai penting, misalnya melalui forum MGMP. Melalui kolaborasi semacam ini, guru dapat saling bertukar pengalaman, mendiskusikan hambatan di kelas, dan menyusun strategi pembelajaran yang lebih segar. Semangat berbagi praktik baik menjadi modal penting agar pembelajaran PAI tidak berjalan stagnan.
Guru juga dituntut terbuka terhadap ide-ide baru. Mengikuti pelatihan, workshop, dan perkembangan metode pembelajaran menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi berkala juga perlu dilakukan agar guru dapat menilai efektivitas strategi yang digunakan, lalu memperbaikinya sesuai kebutuhan siswa.
Baca Juga:Halalbihalal 1447 H Teguhkan Ukhuwah dan Semangat Pascaramadan
Dari temuan tersebut, dapat dipahami bahwa pembelajaran PAI di era globalisasi tidak cukup hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga harus membangun pengalaman belajar yang hidup, kontekstual, dan menyenangkan. Ketika guru mampu menghadirkan pembelajaran yang aktif dan bermakna, siswa tidak hanya lebih mudah memahami materi agama, tetapi juga terdorong untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber:Kurniati, Emi, dan Ainun Nadlif. “Teachers’ Strategies in Implementing Active Innovative Creative Efficient and Fun Learning in Islamic Religious Education Subjects in the Era of Globalization.” Al-Ulum: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 6, No. 1, 2025.


















