Riset Dosen PAI Umsida Ungkap Peran Guru PAI Bentuk Penyesuaian Diri Santri

Pai.umsida.ac.id– Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Umsida kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan keilmuan Islam melalui riset tentang kehidupan pesantren.

Baca Juga: Mengungkap Dakwah Islam dan Pesan Gender dalam Para Pencari Tuhan

Penelitian berjudul Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Self-Adjustment Santri ditulis oleh M. Nur Yahya dan Rahmad Salahuddin dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, lalu terbit di Jurnal PAI Raden Fatah Volume 6 Nomor 4 edisi Oktober 2024. Studi ini menyoroti bagaimana guru PAI berperan penting membantu santri menyesuaikan diri dengan kehidupan pesantren, khususnya di Pesantren Fadlillah.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan sikap, mental, spiritual, dan kepribadian santri. Karena hidup di lingkungan yang memiliki aturan, ritme kegiatan, dan budaya yang khas, santri dituntut mampu beradaptasi dengan baik.

Penyesuaian diri atau self-adjustment menjadi hal penting karena berkaitan dengan kemampuan santri mengelola emosi, menghadapi tekanan, menjaga hubungan sosial, hingga bertahan dalam situasi yang menuntut kedisiplinan tinggi. Penelitian ini juga menegaskan bahwa santri yang mampu menyesuaikan diri dengan baik cenderung lebih mandiri, fleksibel, dan mampu berkembang secara positif di lingkungan pondok.

Guru PAI tidak hanya mengajar tetapi juga membimbing kehidupan santri

Temuan terpenting dari penelitian ini adalah posisi guru PAI yang tidak berhenti pada fungsi pengajar materi keislaman. Guru PAI justru hadir sebagai figur sentral dalam proses pembentukan karakter dan penyesuaian diri santri. Dalam artikel dijelaskan bahwa guru PAI berperan sebagai teladan moral yang menunjukkan langsung bagaimana ajaran Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ramah, sabar, adil, serta integritas guru menjadi contoh konkret yang bisa ditiru santri.

Selain menjadi teladan, guru PAI juga berfungsi memberikan petunjuk dan nasihat. Peran ini penting karena santri tidak hanya membutuhkan teori agama, tetapi juga arahan tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup sesuai nilai-nilai Islam. Guru PAI membantu santri memahami cara bersikap, mengambil keputusan, serta merespons persoalan yang muncul selama tinggal di pesantren. Di titik ini, guru tampil sebagai pembimbing yang menghubungkan ilmu agama dengan realitas hidup santri sehari-hari.

Penelitian ini juga menyoroti peran guru PAI dalam membimbing aktivitas keseharian santri. Guru mengarahkan pelaksanaan salat lima waktu, menanamkan etika pergaulan, menjaga kebersihan, membiasakan sikap tanggung jawab, hingga menumbuhkan rasa syukur. Artinya, pendidikan agama tidak dipahami sebatas transfer pengetahuan, melainkan sebagai proses pembiasaan yang terus menerus dibangun dalam praktik hidup. Dari sinilah santri dibentuk agar tidak hanya memahami Islam secara konsep, tetapi juga menghidupinya dalam perilaku.

Dukungan emosional hingga komunikasi dengan orang tua jadi kunci

Hal lain yang menarik, penelitian ini menegaskan bahwa guru PAI juga memiliki peran emosional yang besar. Guru disebut menjadi tempat aman bagi santri untuk berbicara dan mencari solusi ketika menghadapi tekanan psikologis atau persoalan pribadi. Dukungan emosional yang penuh empati membuat santri lebih tenang, nyaman, dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi kehidupan pesantren yang padat aturan dan aktivitas. Ini menunjukkan bahwa keberadaan guru PAI sangat strategis dalam menjaga kesehatan mental sekaligus pertumbuhan spiritual santri.

Tidak berhenti di situ, guru PAI juga mendorong pengembangan pribadi santri, baik secara intelektual maupun spiritual. Guru mendukung santri agar terus bertumbuh, berani mengembangkan keterampilan, aktif dalam kegiatan sosial, dan memiliki kepemimpinan yang baik. Pada saat yang sama, guru PAI juga berfungsi sebagai penghubung dengan orang tua melalui komunikasi terbuka tentang perkembangan, kebutuhan, serta kondisi santri di pesantren. Kolaborasi antara guru dan keluarga ini dinilai penting untuk memperkuat proses penyesuaian diri santri, baik di pondok maupun ketika berada di rumah.

Penyesuaian diri santri dipengaruhi banyak faktor

Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Fokusnya adalah menggambarkan secara mendalam pengalaman guru, pengurus, dan santri terkait proses pembentukan self-adjustment di pesantren. Dengan metode ini, peneliti berusaha melihat hubungan antara peran guru PAI dan kemampuan santri menghadapi stres, frustrasi, persoalan internal, serta dinamika kehidupan pondok.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri santri tidak hanya dipengaruhi guru, tetapi juga ditopang sejumlah faktor lain. Faktor pendukungnya antara lain kondisi fisik yang sehat, kematangan emosi, perkembangan intelektual, relasi positif dengan teman sebaya, dan kemampuan sosial yang baik. Santri yang sehat secara fisik dan emosional cenderung lebih mudah menjalani ibadah, belajar, serta berinteraksi dengan lingkungan pesantren. Sebaliknya, penyesuaian diri dapat menjadi lebih berat ketika santri menghadapi tekanan, kesulitan emosional, atau kurangnya dukungan sosial yang memadai.

Relasi dengan keluarga dan teman sebaya juga menjadi faktor penting. Dukungan emosional dan material dari keluarga membantu santri merasa aman, percaya diri, dan lebih siap menghadapi tuntutan pesantren. Sementara itu, hubungan positif dengan teman sebaya membantu santri membangun keterampilan sosial, mengurangi stres, dan menumbuhkan rasa nyaman di lingkungan asrama. Dari sini dapat dilihat bahwa pembentukan penyesuaian diri santri bersifat holistik, melibatkan guru, keluarga, teman, dan kultur pesantren itu sendiri.

Melalui riset ini, PAI Umsida memperlihatkan bahwa guru agama memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi. Guru PAI hadir sebagai teladan, pembimbing, pendamping emosional, sekaligus penghubung antara pesantren dan keluarga.

Baca Juga: Lebaran dan Bisnis Tukar Uang, Ketika Uang Mulai Diperdagangkan

Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan Islam yang efektif tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kemampuan santri untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang dalam kehidupan.

Sumber artikel: Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Self-Adjustment Santri karya M. Nur Yahya dan Rahmad Salahuddin.

Bertita Terkini

Mengungkap Dakwah Islam dan Pesan Gender dalam Para Pencari Tuhan
March 4, 2026By
Pengembangan Media Pembelajaran Monopoli Zakat Interaktif untuk Meningkatkan Pemahaman Zakat Mal di SMP
February 27, 2026By
Pergeseran Adab Santri di Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo
February 21, 2026By
E Modul Life Based Learning Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa MIĀ 
February 15, 2026By
Riset PAI Umsida Soroti Strategi Kepala Madrasah Atasi Problematika Guru Kepulauan Terpencil
February 10, 2026By
Transformasi Spiritual dan Sosial Umat Islam Dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
January 18, 2026By
Pentingnya Menata Hati Menuju Ramadhan & Mempersiapkan Jiwa Menyambut Bulan Penuh Berkah
January 13, 2026By
Memahami Puasa Rajab dalam Perspektif Muhammadiyah: Antara Spiritualitas, Keteguhan Manhaj Tarjih, dan Tuntunan Nabi Muhammad SAW
January 11, 2026By

Prestasi

Latihan Sejak Oktober, Mahasisw PAI Umsida Berhasil Bawa Pulang Medali Emas USCC III
December 29, 2025By
Mahasiswa PAI Umsida Raih Emas di PMAP International Innovation Day di UniSZA
December 11, 2025By
PAI
Atiyatul Ulya Naila, Mahasiswi PAI Umsida Yang Terpilih Jadi Ketua Umum IMM Averroes 25/26 untuk Buktikan Posisi Strategis Perempuan
November 12, 2025By
pai
Mahasiswa PAI Umsida Raih 2 Prestasi Nasional Lewat Lomba Essay Bertema Islam dan Teknologi
November 6, 2025By
pai
Mahasiswa PAI Umsida Wakili Kampus di Rakernas dan Jambore AMKI Muda 2025
October 31, 2025By
PAI
Mahasiswa PAI Umsida Wakili Jawa Timur di Ajang Nasional Moderasi Beragama dan Bela Negara
October 24, 2025By
Umsida
2 Mahasiswa PAI Umsida Lolos Program Student Exchange ke UNISZA Malaysia 2025
October 6, 2025By
Doa
Doa Nabi Yunus Jadi Kekuatan Putri Hikmiyatil Latifah Raih Emas Tapak Suci Nasional
September 19, 2025By