Pai.umsida.ac.id – Penelitian dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Nuning Rodiyah bersama Rio Febriannur Rachman dari Universitas Negeri Surabaya mengungkap bahwa website resmi Muhammadiyah tidak lagi sekadar menjadi saluran informasi organisasi.
Baca Juga: Strategi Guru PAI Hadapi Era Globalisasi dengan Pembelajaran Menyenangkan
Dalam artikel ilmiah yang terbit di Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 12 No. 1 edisi Februari 2026, keduanya menunjukkan bahwa situs muhammadiyah.or.id telah berkembang menjadi media dakwah digital dan komunikasi pendidikan yang menempatkan guru sebagai agen moral dan intelektual di era digital.
Penelitian tersebut menganalisis sejumlah artikel yang dimuat di website Muhammadiyah dengan pendekatan analisis isi kualitatif. Fokus utamanya adalah melihat bagaimana narasi keagamaan dipadukan dengan isu pedagogik, profesionalisme, serta etika guru. Hasilnya menunjukkan bahwa Muhammadiyah membangun dakwah digital bukan hanya untuk menyebarkan informasi keislaman, tetapi juga untuk menanamkan kesadaran moral melalui dunia pendidikan.
Website Muhammadiyah Jadi Ruang Dakwah dan Pendidikan
Dalam temuan penelitian itu, website Muhammadiyah diposisikan sebagai ruang dakwah dan pendidikan yang aktif merespons tantangan zaman. Narasi-narasi keislaman yang dimuat tidak berhenti pada ajakan normatif, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan pendidikan modern, termasuk kualitas pembelajaran, etika pengajar, dan pembentukan karakter peserta didik. Dakwah digital Muhammadiyah bahkan disebut telah bergeser dari model penyebaran agama satu arah menuju pendidikan moral yang lebih partisipatif.
Peneliti merujuk pada konsep Cyber Islamic Environment dari Gary R. Bunt untuk menjelaskan bahwa media digital kini menjadi lingkungan baru bagi dakwah, pendidikan, dan pembentukan identitas keislaman. Dalam konteks itu, website Muhammadiyah dinilai berhasil menggabungkan nilai Islam dengan kebutuhan pedagogis masyarakat modern. Artinya, ruang digital tidak lagi dipandang sekadar alat, tetapi telah menjadi arena strategis untuk menyampaikan gagasan tajdid atau pembaruan Islam.
Bagi Program Studi Pendidikan Agama Islam, temuan ini menunjukkan bahwa dakwah pada era digital menuntut penguasaan media, bahasa publik, dan orientasi pendidikan yang kuat. Dakwah tidak cukup disampaikan dari mimbar ke mimbar, tetapi juga harus hadir dalam format yang bisa dibaca, dipahami, dan memengaruhi cara berpikir masyarakat luas, termasuk melalui artikel-artikel pendidikan yang menyentuh persoalan guru dan pembelajaran.
Guru Bukan Sekadar Pengajar
Salah satu poin terkuat dalam penelitian ini adalah cara Muhammadiyah memotret guru. Guru tidak hanya dilihat sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi sebagai figur moral yang menjembatani nilai agama dengan realitas sosial peserta didik. Penelitian itu menegaskan bahwa guru dalam narasi dakwah digital Muhammadiyah digambarkan sebagai “misionaris digital” yang menjalankan nilai Islam melalui praktik pendidikan sehari-hari.
Untuk sampai pada kesimpulan itu, peneliti menganalisis tiga artikel di website Muhammadiyah yang terbit pada Agustus hingga September 2025. Ketiga tulisan tersebut menekankan tiga hal penting, yakni kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran, profesi guru sebagai panggilan jiwa, serta peran guru sebagai ujung tombak kemajuan pendidikan nasional. Salah satu pesan yang menonjol ialah bahwa guru tidak cukup hanya mencerdaskan intelektual peserta didik, tetapi juga harus membina akhlak dan menguatkan iman.
Dalam salah satu artikel yang dianalisis, bahkan ditegaskan bahwa “guru juga harus berperan mencerdaskan akhlak dan menguatkan iman.” Penekanan semacam ini membuat posisi guru dalam pendidikan Islam menjadi sangat sentral. Guru dipandang sebagai penjaga arah pendidikan, bukan hanya agar siswa pintar secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual, sosial, dan moral.
Penelitian ini juga mengaitkan peran guru dengan landasan Islam. Al-Qur’an dan hadis dipaparkan sebagai dasar yang menegaskan kemuliaan ilmu dan orang yang mengajarkannya. Dari sudut pandang ini, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah dan tanggung jawab peradaban. Dalam bahasa Islam, guru menjalankan fungsi mendidik manusia secara utuh, meliputi akal, akhlak, dan iman.
Arah Baru Pendidikan Islam di Era Digital
Lebih jauh, penelitian ini menilai bahwa dakwah digital Muhammadiyah membuka arah baru bagi pendidikan Islam. Dakwah tidak lagi hanya dipahami sebagai ceramah atau penyampaian ajaran secara verbal, tetapi sebagai proses pendidikan yang membentuk warga digital yang etis. Karena itu, guru diposisikan bukan hanya sebagai pengajar di kelas, melainkan pembimbing peserta didik dalam menghadapi dunia maya, arus informasi, dan tantangan moral di ruang digital.
Baca Juga: El Nino 2026 Ancam Sektor Pertanian, Pakar Umsida Ungkap Dampak dan Solusinya
Konsep kewargaan digital etis menjadi salah satu simpulan penting dalam artikel ini. Peneliti menilai pendidikan Islam ke depan perlu menanamkan nilai amanah, adab, dan verifikasi informasi agar peserta didik tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga bertanggung jawab secara moral ketika berada di ruang digital. Dalam konteks itu, guru memiliki peran besar untuk membimbing generasi muda agar tidak sekadar aktif di internet, melainkan juga berintegritas saat berinteraksi di dalamnya.
Sumber: Nuning Rodiyah dan Rio Febriannur Rachman, “Media and Religion: Da’wah on the Role of Teachers on the Muhammadiyah Website,” Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, Vol. 12 No. 1, Februari 2026.


















