Pai.umsida.ac.id- Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo kembali menghadirkan kajian ilmiah yang memperkuat hubungan antara khazanah pemikiran Islam klasik dan kebutuhan pendidikan masa kini.
Baca Juga: Penelitian Umsida Ungkap Peran Guru dalam Dakwah Digital Muhammadiyah
Melalui artikel berjudul Analisis Pemikiran Pragmatisme Ibnu Khaldun dan Relevansinya Terhadap Perkembangan Pendidikan Agama Islam, Trisha Febrilliant Adams bersama Ainun Nadlif menelaah bagaimana gagasan Ibnu Khaldun masih relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di era modern. Artikel ini terbit dalam Jurnal Pendidikan Volume 13 Nomor 2 Juli 2025.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa pendidikan menurut Ibnu Khaldun tidak cukup berhenti pada penguasaan teori. Pendidikan harus diarahkan pada kebermanfaatan, pembentukan karakter, dan pengalaman belajar yang berdampak langsung bagi peserta didik maupun masyarakat. Dalam konteks ini, pemikiran pragmatisme Ibnu Khaldun dipandang sejalan dengan kebutuhan pembelajaran modern yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima materi dari guru.
Pendidikan harus memberi manfaat nyata
Dalam kajian ini, Ibnu Khaldun digambarkan sebagai tokoh yang memandang pendidikan secara luas. Ia tidak memisahkan ilmu agama dan ilmu duniawi, tetapi menempatkan keduanya dalam kerangka yang saling mendukung. Dasar utama pendidikan tetap berada pada Al-Qur’an dan sunnah, namun proses belajar juga perlu menyentuh aspek sosial, moral, dan keterampilan hidup yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan systematic literature review dengan metode PRISMA, peneliti menelusuri ratusan artikel menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan Ibnu Khaldun, pragmatisme, dan Pendidikan Agama Islam. Dari 708 artikel awal, proses penyaringan menghasilkan 44 artikel yang sesuai dengan kriteria, lalu dipersempit menjadi 15 artikel yang dinilai layak untuk dianalisis lebih mendalam. Temuan-temuan dari artikel tersebut kemudian digunakan untuk menjawab tiga fokus utama penelitian, yakni bagaimana pragmatisme dapat mengembangkan Pendidikan Agama Islam, seberapa relevan pemikiran tersebut dalam pembelajaran, dan bagaimana perannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Hasil kajian menunjukkan bahwa inti pragmatisme Ibnu Khaldun dalam pendidikan terletak pada orientasi al-naf’iy atau kebermanfaatan. Pendidikan tidak sekadar bertujuan membuat siswa mengetahui sesuatu, melainkan membentuk kemampuan berpikir, bersikap, dan bertindak secara berguna. Karena itu, proses belajar harus mendorong peserta didik untuk memahami realitas, membedakan yang baik dan buruk, serta mengembangkan keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sosialnya.
Relevan dengan pembelajaran PAI masa kini
Salah satu poin terpenting dalam artikel ini ialah penegasan bahwa pemikiran Ibnu Khaldun sangat relevan dengan pembelajaran PAI modern. Menurut hasil review, pendekatan pragmatis menekankan praktik langsung, observasi, eksperimen, dan pengalaman empiris. Model seperti ini dinilai selaras dengan pola pembelajaran yang kini berkembang, di mana guru tidak lagi menjadi pusat tunggal pembelajaran, melainkan fasilitator yang mendorong siswa aktif bertanya, mengamati, menganalisis, dan mencoba sendiri.
Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa metode pembelajaran langsung dapat diterapkan pada materi-materi PAI. Misalnya, pada pelajaran fikih tentang memandikan jenazah, siswa tidak cukup hanya mendengar penjelasan, tetapi juga perlu melihat alat peraga dan melakukan simulasi. Demikian pula pada pembelajaran salat di tingkat dasar, peserta didik dapat belajar melalui contoh gerakan, peniruan, hingga evaluasi terhadap praktik ibadah yang benar. Pola seperti ini membuat siswa tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar memahami dan mengalami proses belajar.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya keteladanan guru, penggunaan alat peraga, dan interaksi tatap muka dalam pembelajaran. Menurut Ibnu Khaldun, siswa lebih mudah menerima ilmu melalui contoh nyata daripada nasihat yang hanya bersifat verbal. Karena itu, guru dituntut kreatif dalam memilih strategi dan media agar materi lebih mudah dipahami. Gagasan ini dinilai masih sangat sesuai dengan kebutuhan pendidikan saat ini, termasuk saat sekolah dituntut memanfaatkan teknologi informasi tanpa kehilangan kedekatan pedagogis antara guru dan siswa.
Pendidikan membentuk masyarakat yang berbudaya
Lebih jauh, artikel ini menegaskan bahwa pendidikan menurut Ibnu Khaldun tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Pendidikan dipahami sebagai sarana membangun peradaban, meningkatkan kualitas sosial, dan menyiapkan manusia agar mampu menjalankan perannya sebagai makhluk sosial. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari lahirnya manusia yang berkarakter, terampil, dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.
Kajian tersebut menyebut bahwa pendidikan yang baik akan melahirkan malakah atau keahlian, yakni kemampuan yang berguna bagi kehidupan nyata. Dari sinilah pendidikan berkontribusi pada peningkatan kualitas masyarakat, baik dalam aspek budaya, ekonomi, maupun hubungan sosial. Ibnu Khaldun juga menekankan pentingnya ashabiyah atau rasa kebersamaan yang diperoleh melalui pendidikan, karena hal itu dapat memperkuat tanggung jawab sosial dan menjaga keharmonisan masyarakat.
Temuan lain yang cukup kuat ialah penolakan terhadap kekerasan dalam pendidikan. Dalam pembahasan artikel dijelaskan bahwa metode pendidikan yang keras justru berdampak buruk pada perkembangan psikologis siswa, bahkan dapat membentuk karakter penakut dan tidak jujur. Karena itu, pemikiran Ibnu Khaldun dipandang memberi landasan penting bagi pendidikan yang lebih manusiawi, dialogis, dan berorientasi pada pembentukan karakter yang sehat.
Baca Juga: Cedera Tak Hentikan Yusuf Naufal Rebut Emas Pakubumi Open
Melalui penelitian ini, PAI Umsida menunjukkan bahwa pemikiran ulama klasik seperti Ibnu Khaldun tetap memiliki daya hidup dalam menjawab tantangan pendidikan kontemporer. Pragmatisme yang ditawarkan bukan pragmatisme sempit yang hanya mengejar hasil material, melainkan pragmatisme yang memadukan manfaat, moralitas, pengalaman belajar, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, gagasan ini memberi arah bahwa pembelajaran ideal adalah pembelajaran yang membumi, bernilai, dan berdampak nyata bagi peserta didik serta masyarakat.
Sumber: Artikel ilmiah Analisis Pemikiran Pragmatisme Ibnu Khaldun dan Relevansinya Terhadap Perkembangan Pendidikan Agama Islam karya Trisha Febrilliant Adams dan Ainun Nadlif, Jurnal Pendidikan, Vol. 13, No. 02, Juli 2025.


















