Sejarah

Program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah cikal bakal dari UMSIDA, yang dahulunya merupakan kelas jauh dari Fakultas Agama Islam UMM. Prodi PAI di awal berdirinya, tahun 1984, menyelengarakan perkuliahan di bawah koordinasi UMM dengan menghadirkan para pengajar dari Malang. Perkembangan selanjutnya para pengelola perkuliahan di Sidoarjo dipersilahkan menggunakan tenaga pengajar dari Sidoarjo sendiri karena dianggap lebih efisien dan efektif. Dari sinilah awal terbentuknya cikal bakal kemandirian penyelenggaraan dan pengelolaan perkuliahan yang akhirnya menjadi sekolah tinggi ilmu tarbiyah.
Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1986, pelaksana perkuliahan PAI di Sidoarjo berinisiatif untuk melepaskan diri dari UMM agar lebih leluasa dalam melakukan pengembangan pelayanan akademik. Walaupun cukup berat melepas kelas jauh Sidoarjo, pada akhirnya UMM menyetujui juga keputusan itu.
Angkatan pertama mahasiswa prodi atau jurusan PAI di tahun 1984 berjumlah 81 orang, suatu sambutan yang positif bagi kelahiran perguruan tinggi di Sidoarjo. Walaupun cara perekrutan mahasiswa dilakukan dari mulut ke mulut dan sedikit memaksa. Mereka berasal dari anggota keluarga aktivis PCM dan PDM di Kecamatan Sidoarjo dan sekitarnya yang bersedia menjadi mahasiswa, serta para alumni SMA Muhammadiyah 2 dan SPG Muhammadiyah Sidoarjo. Prodi ini untuk pertama kalinya meluluskan mahasiswa di tahun 1990.
Pada perkembangan awal ketua program studi (atau ketua jurusan) tidak ada, tetapi dirangkap oleh Ketua STIT (sekolah tinggi ilmu tarbiyah) Muhammadiyah Sidoarjo. PAI adalah satu-satunya jurusan di STITM Sidoarjo. Jabatan itu dipegang oleh Drs. Achmad Jainuri. PAI menjadi satu-satunya jurusan di STITM Sidoarjo, dan juga ketika sesudah menjadi Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun 2000.
Jurusan lain di Fakultas Tarbiyah lahir tahun 2002-2003, yakni Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), maka PAI menjadi salah satu dari dua jurusan di Fakultas Tarbiyah. Jurusan PAI mendapat status “Terdaftar” dari Departemen Agama tahun 1989. Status jurusan dijadikan landasan dalam membedakan penyelenggaraan UNC (ujian negara cicilan). Jurusan yang berstatus terdaftar hanya berwenang menyusun dan mengoreksi 25% dari seluruh mata kuliah yang diujikan di UNC, selebihnya adalah wewenang dosen dari perguruan tinggi negeri Agama Islam, dalam hal ini adalah IAIN Sunan Ampel. Maka keputusan kelulusan ujian negara mahasiswa dominan ditentukan oleh pihak eksternal kampus.
Status “Diakui” diraih oleh jurusan PAI di tahun 1994. Wewenang jurusan jadi meningkat, yakni berwenang menyusun soal dan mengoreksinya dengan porsi 50:50. Akreditasi pertama diperoleh PAI tahun 2000 dengan predikat “B”, tahun 2005, 2010, dan 2012 yang tetap dengan akreditasi “B”.